
SOUTH OF THE BORDER, WEST OF THE SUN
Haruki Murakami
Diterbitkan dalam bahasa Jepang tahun 1992 Kodansha Ltd,
Diterjemahkan dalam bahasa Inggris tahun 1998.
Oleh Philip Gabriel
Vintage
187 halaman
Pretend you’re happy when you’re blue. It isn’t very hard to do…
-Pretend, Nat King Cole-
Cinta? Apakah cinta itu? Apa arti kesetiaan?
Mungkin itu yang mau ditanyakan oleh Haruki Murakami di dalam novelnya yang ditulis tahun 1992, South of the Border, West of the Sun (judul asli Kokkyo no Minami, Taiyo no Nishi). Dibandingkan dengan novel-novel lainnya seperti Norwegian Wood dan Kafka on the Shore, novel ini bisa dibilang cukup tipis. Tema yang diangkat juga agak berbeda dengan kedua novel Murakami yang sudah aku baca. Tema tentang keluarga dan kesetiaan. Tetapi jangan menghakimi dulu novel ini sebagai novel roman percintaan picisan, anda akan kecewa bila mengira begitu. Seperti biasa Murakami selalu menggangkat cerita dari sudut pandang yang lain. Sudut pandang yang sepi kalau boleh aku menamakannya. Walaupun mengangkat tema cinta pertama yang kembali lagi dan pengkhianatan. Cerita novel ini bukan cerita novel-novel Harlequin yang mengumbar warna-warni dan harumnya cinta. Novel ini mengangkat tentang kepahitan cinta dan bagaimana cinta bisa merusak seseorang begitu beratnya sampai kita sukar percaya hal itu bisa terjadi.
Hajime adalah seorang pengusaha yang mengelola 2 buah jazz bar yang sukses dan berusia 30an akhir. Dia juga seorang ayah dengan dua putri beristrikan seorang wanita yang setia. Selama tujuh tahun sejak menikah, Hajime tidak pernah mengeluh, hidupnya bisa dibilang sempurna. Hingga suatu hari seorang wanita cantik bernama Shimamoto , cinta pertamanya ketika berusia 12 tahun muncul kembali begitu saja dihadapannya. Semua kenangan yang selalu hadir di di sela-sela mimpinya meluap kembali. Hajime harus memilih antara cinta keluarganya dengan ketidakpastian cinta pertamanya.
Sepintas mungkin kita akan mengira ceritanya klise dengan plot bak sinetron
South of the Border adalah sebuah judul lagu Jazz yang dinyanyikan oleh Nat King Cole. Seperti biasa Haruki Murakami senang sekali memberi judul novelnya dengan judul lagu-lagu. Entah itu lagu klasik, lagu pop maupun lagu Jazz. Novelnya selalu bertaburan dengan judul-judul lagu disertai celotehnya terhadap lagu itu. Kalau Norwegian Wood bertaburan dengan lagu-lagu Beatles, Kafka on the Shore bertaburan dengan lagu-lagu klasik, dan The Wind-up Bird Chronicle bernuansa lagu-lagu pop maka South of the Border bertaburan dengan lagu-lagu Jazz.
Sedangkan West of the Sun adalah gejala hysteria yang dialami oleh petani-petani di Siberia yang tiap hari selama hidupya menjalani rutinitas dan menjadi gila (hysteria siberiana). Histeria ini disebabkan oleh pekerjaan mereka sebagai petani yang sangat rutin di daerah yang termasuk daerah paling kejam di bumi. Dimana sepanjang mata memandang yang ada hanya kekosongan dan pemandangan garis Horizon. Di antara kekosongan ini, tiap hari para petani menggarap lahannya tanpa ada tujuan lain. Sepanjang hari sepanjang tahun selama hidup mereka. Hingga suatu hari ada sesuatu di bagian relung jiwa mereka yang jatuh dan mati. Saat itulah mereka kehilangan kesadaran mereka atas eksistensi diri. Mereka akan berjalan tanpa henti tanpa sadar kearah barat, kearah matahari tenggelam, mencari pembebasan jiwa . Sampai mereka akhirnya kelelahan dan bila tidak ada yang menolong maka hanya kematian yang akan mereka temui. Sendirian di sepinya dunia dingin
Roman tentang cinta yang dibalut dengan surealisme gelap khas Murakami membuat novel ini sangat menarik untuk diikuti. Akhir ceritanya mungkin akan terasa menggantung tetapi itu memang ciri khas Murakami yang selalu mengakhiri novelnya dengan tanda tanya besar untuk pembacanya. Seakan-akan dia ingin berkata “hei, inilah hidup…tidak ada yang namanya akhirnya mereka hidup bahagia selama-lamanya”. Tidak akan ada akhir, selalu akan ada pertanyaan-pertanyaan baru.
Bagiku membaca Murakami adalah seperti berjalan menyusuri lorong jalan sepi yang panjang sehabis hujan. Sekali-kali akan ada gang yang membuat kita penasaran untuk mengintip tetapi tidak sampai membuat kita cukup penasaran untuk keluar dari lorong utama. Membaca Murakami adalah membaca cerita hidup kita masing-masing.
Salam
Yulibean
Tidak ada komentar:
Posting Komentar