Kamis, 08 Mei 2008

Glonggong, ketika perang mencabik bangsa


Glonggong


Oleh : Junaedi Setiyono
Penerbit : Serambi
Penyunting : Imam Muhtarom
Penyerasi : Navisa Rahmani
Pewajah Isi : Siti Qomariah
Tahun : 2007,
293 halaman
Fiksi-sejarah


“hari itu Ahad 28 Maret 1830. Aku hanya bisa memandang dari jauh roda kereta yang berderak dan kaki kuda yang berlari berderap, membawa pergi Kanjeng Sultan Ngabdulkamid…”

Dilatari oleh peristiwa yang merubah arah sejarah tanah Jawa, novel ini bergulir…

Perang Jawa atau perang Diponegoro atau Java Oorlog yang berlangsung selama 5 tahun antara tahun 1825-1830 telah menorehkan banyak kesan di benak orang-orang yang mencoba menyimaknya, termasuk saya.

Di dalam sejarah 350 tahun pendudukan Belanda terdapat 3 Perang besar yang membuat pusing “Perusahaan Belanda di Hindia” ini. Tiga perang itu adalah Perang Jawa, Perang Aceh (Perang Padri) dan Perang Bali. Diantara ketiga perang besar itu, perang Jawa-lah yang bisa dibilang paling dahsyat. Walaupun ‘hanya’ berlangsung 5 tahun, perang Jawa telah menghabiskan kurang lebih 8000 jiwa orang Eropa, 7000 jiwa Pribumi yang ada di pihak Belanda dan lebih dari 200.000 jiwa orang Jawa (diperkirakan penduduk seluruh Hindia-Belanda waktu itu baru tujuh juta orang. Bisa dikira-kira kalau penduduk Yogyakarta tinggal separuhnya waktu itu). Sekurang-kurangnya dua puluh juta gulden dihabiskan untuk membiayai perang ini (jumlah yang tidak sedikit waktu itu dan hampir membangkrutkan Belanda di Hindia).

Novel pemenang sayembara novel 2006 Dewan Kesenian Jakarta karya Junaedi Setiyono ini patut diberi dua jempol dan ucapan Bravo!!. Cerita yang mengalir tidak terjebak menjadi kisah-kisah tentang para pendekar ahli kanuragan yang sakti mandraguna penuh sihir dan mantra, yang biasa dijadikan bumbu dalam kisah-kisah berlatar sejarah.Ini kisah tentang den Glonggong, seorang raden berdarah kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang terpaksa harus hidup penuh onak dan duri demi mencari jati dirinya, seru dan mengharukan.

Novel ini bukanlah novel tentang Pangeran Dipanegara sang “Sultan Ngabdulkamid Erucakra Kabirulmukmina Kalifatul Rasululah Hamengkubuwono Senapati Ingalaga Sabilulah ing Tanah Jawi”, sebuah gelar yang membuat para bangsawan kesultanan Yogyakarta dan Pihak Belanda merasa gerah. Novel ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang tercabut dari lingkungan darah biru-nya dan akhirnya berusaha untuk mengabdi kepada seorang Pangeran yang diharapkan bisa menjadi ‘Ratu Adil’ bagi tanah Jawa yang tercabik oleh angkara murka. Berbagai kejadian dialami Glonggong dalam perjalanannya. Dikhianati oleh guru, junjungan dan sahabat-sahabatnya. Bertemu dengan wanita-wanita yang akan menuntun jalannya. Berhadapan dengan lawan-lawan yang termasuk didalamnya adalah kakak kandung dan ayah tirinya sampai akhirnya melihat dengan perasaan tercabik ketika sang Pangeran ditangkap oleh Belanda dengan cara yang tidak ksatria.

Perang Jawa yang menjadi latar belakang novel ini di awali ketika pihak Belanda dengan sepihak mematok untuk membuat jalan tembus yang melewati rumah pangeran Dipanegara di Tegalrejo. Pangeran Dipanegara terpaksa mengungsi ke Selarong bersama pengikut-pengikutnya termasuk Kyai Modjo, guru dan sekaligus panglima perangnya. Peristiwa ini digambarkan sekilas di Novel ini, ketika Glonggong baru pulang dari upaya mencari keberadaan kakak perempuannya. Akan tetapi sebelum Perang Jawa pecah, keadaan di tanah Jawa memang sudah carut marut dengan penyalahgunaan kekuasaan oleh para bangsawan kraton. Beban pajak yang aneh-aneh menghimpit rakyat jelata seperti pajak tanah, pacumpleng (pajak pintu), kerigaji, pangawang-awang (pajak halaman), wilah welit (pajak sawah), pajongket, pajak bekti, pajak tol. Bahkan seorang penjahat yang tertangkap dapat dilepaskan dengan alasan melarikan diri bila bisa membayar uang kepada penguasa. Tidak beda dengan keadaan kita sekarang bukan? Maka tidak aneh bila timbul kerinduan terhadap sang ‘Ratu Adil’ yang bisa melepaskan rakyat jelata dari keserakahan para pejabat eh bangsawan.

Membaca Novel Glonggong ini saya teringat akan kisah yang mirip tetapi berbeda tentang seorang pendekar samurai Jepang paling terkenal, Miyamoto Musashi (Miyamoto Musashi adalah tokoh nyata yang dibuat novelnya oleh Eiji Yoshikawa yang juga membuat buku tentang sepak terjang panglima perang paling terkenal di Jepang, Oda Nobunaga, “Taiko”). Seperti halnya Glonggong yang suka menggunakan glonggong atau batang daun pohon pepaya yang terbuat dari kayu sebagai senjata. Musashi juga lebih suka menggunakan pedang kayu dari pada pedang besi. Musashi juga seorang anak yang berdarah biru yang terbuang dari lingkungannya, mengembara mencari jalan pedang. Berangasan pada awalnya tetapi menjadi ‘sensei’ atau empu di bidang Zen, prinsipnya adalah belajar mengekang diri bukan melukai atau membunuh. Buku karangannya yang paling terkenal adalah The Book of Five Rings. Aaah jadi melantur..hahahaha.

Di tahun 1830 Perang Jawa usai sudah dan pihak kesultanan Yogyakarta dibantu oleh Belanda keluar menjadi pemenangnya. 64 tahun kemudian atau sekitar tahun 1894 terbitlah buku De Java Oorlog : 1825-1830 yang terdiri 6 jilid. Setiap jilidnya lebih dari 700 halaman. Buku yang menghabiskan 15 tahun penyusunan ini disusun oleh dua kapten infanteri Tentara Hindia Belanda, P.J.F. Louw dan E.S. de Klerck. Sampai sekarang tidak satu jilidpun buku-buku tersebut yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, bukti ketidakpedulian akan sejarah bangsa ini?.

Bila anda ingin mengetahui sedikit lebih banyak tentang Perang Jawa yang melatari Novel ini silahkan baca :

Swantoro, Polycarpus, Dari Buku ke Buku : Sambung menyambung menjadi satu. (Jakarta, KPG dan Rumah Budaya TeMBI, 2002).

Lombard, Denys, Nusa Jawa : Silang Budaya. (Jakarta, Gramedia, Forum Jakarta-Paris dan EFEO, 2005).


NB : gambar nyulik dari sitenya mas Qyu di http://qyus.multiply.com/reviews/item/7

Salam
Yulibean

Tidak ada komentar: