
Denias, Senandung di Atas Awan
Film
Ini bukan review tapi hanya sekedar membuang-buang ludah
Terus terang saya paling malas nonton film indonesia. Bukan...bukan saya mengagung-agungkan film-film luar negeri (baca Hollywood) ataupun tidak menghargai hasil karya anak bangsa. Hanya saja...hanya saja...malas saja...malas dengan tema-tema dan cerita yang lebih menjurus kepada pembodohan nalar dan pendangkalan pikiran.
Contoh film Indonesia yang kalau ditonton bakal menurunkan kadar intelegensia kita (yang kata salah satu web pereview film indonesia bahkan marmut yang dipotong buntutnya dan di siram air panas saja bisa bikin film yang lebih bagus)...film dengan judul tali pocong perawan atau Genderuwo yang dikasih rating kancut x 1000 nanah oleh salah satu pereview kita (saya lupa alamat web-nya).
Terus terang dulu saya pecinta sinetron Indonesia semacam Losmen, Rumah masa depan (masih ingat banget dengan Mak wok), Jendela rumah kita (Dede Yusuf masih muda banget, aku masih inget dengan salah satu episodenya yang menggangkat tema tentang para pemahat patung di Borobudur). Dan tentu saja saya senang dan menanti-nanti film-filmnya warkop yang mengumbar cewek2 sexy nan bahenol tiap tahun menjelang lebaran atau ikut mengantri tiket film barunya Rhoma Irama.
Tapi sejak jatuhnya film indonesia dan munculnya film2 dengan tema esek-esek seperti bergulat dibawah ranjang (eh ada ga ya film dengan judul ini hehe), darah perawan, gadis metropolis...dll. saya menjadi sangat malas ke gedung bioskop dan menghabiskan uang jajan saya yang tidak seberapa untuk menonton film yang bisa membuat mata saya belekan seminggu. Film Indonesia yang terakhir saya tonton adalah Janji Joni (lumayan bagus) dan Ungu Violet (visualnya bagus...tapi isinya aku ga ngerti). itupun bukan di gedung bioskop.
Beberapa malam yang lalu, malam sebelum saya terusir dari kamar saya di International House, saya harus menarik lidah dan kata-kata saya selama ini kalau orang Indonesia sudah tidak becus lagi bikin film. Malam itu hampir semua barang2 saya sudah dipak dan hanya tinggal TV dengan DVD player saja yang masih kelihatan bentuk aslinya. Saking bosannya saya malam itu, saya lalau pergi ke kamar teman saya dari Padang untuk merampok adakah dia punya film. Ternyata dia membawa satu film dari indonesa bertitle Denias, Senandung di Atas Awan....arrrggghhhhhh....ya udahlah daripada tidak ada yang ditonton.
Film Denias ini pernah saya liat posternya tahun lalu di Jogja. terus terang saya agak-agak mules liat poster filmnya yang kayak poster iklan layanan masyarakat jaman orba ini apalagi ditempeli stempel sponsor salah satu produsen minuman kebugaran kolesom.
Dengan rasa malas yang amat sangat, saya pasang film itu di player....eng ing eng...
Gambar pertama muncul...sebuah adegan upacara suku pemasangan koteka di Papua...hmm lumayan keren, pikirku. lalu visual-visual yang membuat mulut saya ternganga sebesar 30 cm (berlebihan kali ya hehe) terus berdatangan...
Setelah film berakhir, saya masih terkagum-kagum dan tidak percaya kalau ternyata kita bisa bikin film yang bagus. Secara visual sangat mengagumkan, secara ide cerita cukup keren walaupun di sana-sini terasa berlompat-lompatan. Lagu-lagunya juga sangat bagus, Joke-jokenya juga kena.
Saya angkat jempol untuk John de rantau dan teman-teman yang berhasil membuat saya terkagum-kagum. Film ini sangat layak ditonton bagi mereka yang meragukan sinema Indonesia. Menurut kabar juga film ini sempat masuk kedalam seleksi nominasi Oscar untuk film berbahasa asing tahun 2008.
Untuk sinopsis bisa baca di wikipedia :
http://id.wikipedia.org/wiki/Denias,_Senandung_di_Atas_Awan
gambar juga diambil dari situs Wikipedia
Salam
Yulibean
Tidak ada komentar:
Posting Komentar