TIGA SEKAWAN WRIGHT
Pengarang : Blue Balliett
Ilustrasi : Brett Helquist
Penerjemah : Maria Lubis
Xvii + 356 hlm
Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca sejak awal Mei (karena hasutan jempolan dari Kobo hehehe), tetapi baru sempat saya (coba belajar) review disini (iseng sambil nunggu waktu mengajar hehehe).
Tidak banyak novel terutama novel anak-anak yang membahas tentang peran seorang arsitek didalam petualangan tokoh utamanya. Frank Lloyd Wright termasuk salah seorang arsitek legendaris yang sering dijadikan bahan sebuah novel selain seorang arsitek legendaris lainnya yang berkebangsaan Perancis, “Le Corbusier”. Dua-duanya adalah pelopor dan penjaga gawang (Avant Garde) gerakan Arsitektur Modern diawal abad 20an.
Blue Balliet memasang Frank Lloyd sebagai latar dari novel petualangannya. Sebenarnya lebih tepat salah satu karya Frank Lloyd, “Robie House” yang dipasang sebagai obyek eksplorasi tokoh utamanya, yang terdiri atas 3 anak-anak. Calder, Petra dan Tommy.
Cerita Novel ini bermula dari sekelompok anak-anak sekolah dasar Universitas Chicago yang diberi tugas oleh gurunya, miss Isabel Huseey untuk mempelajari bidang arsitektur di penghujung libur musim panas (woow, aku kagum sekali dengan sistem pendidikan mereka. Di Indonesia sendiri belum tentu seorang sarjana bisa membedakan Arsitektur dengan Teknik Sipil). Tommy Segovia seorang murid pindahan yang sempat berpindah kota dan sekolah karena mengikuti ibunya yang menikah (dengan seorang laki-laki yang menjadi tokoh jahat di novel Blue Balliet sebelum ini, “Misteri Lukisan Vemeer”). Memulai hari pertamanya di kelas yang pernah ditinggalkannya dengan perasaan jengah. Sahabat satu-satunya yang sering menjadi teman eksplorasi pengumpulan benda-benda aneh, Calder telah ‘”dicuri” oleh seorang anak perempuan aneh berambut keriting, Petra.
Pada perkembangan cerita nantinya Tommy, Calder dan Petra akan belajar saling bahu membahu mengesampingkan perbedaan mereka untuk mencegah “pembunuhan” sebuah bangunan bersejarah yang di bangun oleh Frank Lloyd diawal-awal kariernya sebagai arsitek. Tommy dengan kemampuannya dalam mencari dan menemukan benda-benda penting, Calder yang ahli dalam “utak-atik” Pentomino (semacam alat permainan Lego matematis yang juga merupakan mainan Frank Lloyd waktu kecil), serta Petra yang analitis dan kutu buku. Tiga kombinasi yang “mematikan” untuk menguak misteri hantu Frank Llyod, ikon berbentuk ikan yang misterius, deret Fibonaci “the Golden Section” yang menakjubkan, percobaan pembunuhan para pembongkar bangunan, dan misteri “The Invisible Man”. Misteri-misteri yang saling berhubungan dengan rencana Universitas Chicago untuk membongkar “Robie House” karya agung sang maestro.
Lepas dari subyektifitas saya dalam memandang Frank Lloyd Wright, “guru” dan idola saya dalam dunia Arsitektur. Secara keseluruhan Novel ini sangat menarik dan sungguh menyenangkan menebak-nebak gambar misteri yang dibuat oleh Ilustrator Brett Helquist. Berusaha menebak-nebak kode rahasia si Tiga Sekawan Wright yang didasarkan pada obyek-obyek Pentomino sehingga mengingatkan kembali dengan petualangan para tokoh-tokoh di buku Lima sekawan dan Sapta Siaga. Bagi yang suka cerita-cerita misteri dan kode-kode rahasia, novel ini sangat direkomendasikan.
Sedikit penambah bumbu untuk Novel ini. Kehidupan pribadi Frank Llyod Wright sendiri sangat heboh dan berwarna. Arsitek hebat kelahiran 8 Juni 1867 ini pernah dipecat oleh ‘Leiber Meister’ Louis Sullivan, bosnya di awal-awal karier karena ketahuan “ngobyek” di luar kantor. Sullivan sendiri, akhir kariernya sangat tragis, beliau meninggal dalam keadaan sangat miskin karena berpegang pada idealisme profesi.
Berbeda dengan mentornya Louis Sullivan yang konservatif, Frank Lloyd ‘agak’ bahkan berlebihan moderatnya, dia berselingkuh dengan istri kliennya (Mamah Borthwick Cheney) lalu kawin lari meninggalkan istri sahnya. Skandal yang menghebohkan dunia arsitektur kala itu karena masalah moralitas etis profesi dan sempat menghancurkan kariernya yang sedang puncak-puncaknya sebagai arsitek di Amerika. Skandal ini berlangsung di tengah-tengah pembangunan “Robie House” yang menjadi obyek cerita novel diatas (1906).
Wright dan selingkuhannya Mamah Cheney ‘melarikan diri’ ke Eropa karena cercaan publik. Ketika akhirnya kembali ke Amerika untuk memulai kariernya kembali, Frank Lloyd mendapat ‘tulah’. Frank Lloyd sedang mengurus proyek di Chicago waktu itu. Selingkuhan yang kemudian menjadi istrinya, Mamah Cheney beserta 2 anaknya John dan Martha terbunuh di rumah sekaligus kantor bironya di Taliesin, Wisconsin. Seorang pelayan laki-laki yang belakangan diketahui mengidap penyakit jiwa membakar rumah Frank Lloyd dan membunuh beberapa karyawan termasuk istri dan anak-anak Frank Lloyd dengan kapak. Peristiwa tragis ini sangat menghancurkan hati Frank lloyd, karena dia sangat mencintai istri keduanya ini. Walaupun akhirnya dia menikah lagi beberapa tahun kemudian dengan seorang balerina dari Rusia bernama Olga Lazovich Hinzenburg, tetapi cintanya terhadap Mamah Cheney tidak pernah padam. Karena dengan Mamah Cheney-lah dia membentuk sebuah perkumpulan (rahasia?) Akademis Spiritual bernama the Taliesin Fellowship yang mengangkat nama Frank Lloyd Wright menjadi seorang legenda.
Dengan istri ketiganya, Olga, dia beberapa kali juga mengalami peristiwa yang menghebohkan. Frank Llyod dan Olga sempat ditahan karena diperkarakan oleh bekas suami Olga yang menuduh keduanya melarikan anak-anak Olga dari perkawinan pertamanya. Bahkan sampai bertahun-tahun setelah kematiannya tanggal 9 April 1959, Frank Llyod masih membuat kehebohan. Perebutan hak waris sampai penempatan abu jenazahnya menjadi persoalan yang berlarut-larut diantara keturunannya. Hingga sekarang terdapat dua makam Frank lloyd Wright, satu makam kosong dan satu makam berisi. Misteri?? Menurut anda…??
(disarikan dari Wikipedia, buku “Modern Architecture”, Kenneth Frampton dan buku “Frank Lloyd Wright: His Life and Architecture”, Robert Twombly)
Kesukaan Frank Lloyd Wright terhadap Ikan adalah sebuah misteri lain, tidak banyak orang yang mengetahui hal ini. Salah satu karyanya yang paling terkenal, Solomon R. Guggenheim Museum di New York City, kemungkinan dikonsepkan dengan kesukaannya terhadap ikan. Bangunan museum ini berbentuk seperti Aquarium bundar dan pengunjungnya dianalogikan sebagai ‘ikan’ penghuni ‘aquarium raksasa’ itu. Selain Frank Lloyd ada seorang ‘Frank’ yang lain yang juga tergila-gila dengan ikan, tetapi terpaut satu generasi. Dia adalah Frank Gehry yang ‘kebetulan’ dipercayakan untuk mendesain Solomon R. Guggenheim Museum kedua di Kota Bilbao, Spanyol. Anda bisa menebak konsep bangunannya??? Ikan!!!,…ya Ikan yang teradiasi sehingga bermutasi (karya lain Frank Gehry yang terang-terangkan menggunakan ikan sebagai model adalah bangunan “Fish Dance” di Kobe, Jepang). Misteri?? Menurut anda lagi….??
Selamat bertualang di dunia misteri para arsitek…
Salam
Yulibean
Tidak ada komentar:
Posting Komentar