
EDENSOR
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Diterbitkan : Penerbit Bentang
Didistribusikan : Mizan Media Group
Isi : xii + 290 hlm; 20,5 cmm
Tahun : 2007
Edensor adalah buku ketiga dari Andera Hirata si Ikal dalam bukunya. Bercerita tentang pengalaman Ikal dari awal diterimanya di Universitas Sorbone, Perancis sampai dengan petualangannya melintas benua Eropa, Rusia dan afrika bersama dengan sepupunya Arai si Lone ranger.
Membaca buku ini, saya ditarik ke pusaran petualangan para peyandang tas punggung. Disajikan oleh sang “koki” Andrea Hirata dengan jenaka dan penuh bumbu. Dan bumbu utamanya adalah cinta.
Selain ingin mewujudkan janji untuk keliling Eropa sampai ke Afrika, Ikal mempunyai tujuan lain. Yaitu mencari belahan jiwanya yang hilang waktu di Belitong. Cinta masa SDnya di SD Muhamadiah yang penuh tawa dan tangis ketika di Belitong (buku pertamanya : Laskar Pelangi). A ling, nama kekasih hatinya itu, seorang gadis manis berkuku indah. Keturunan Tionghoa bersuku gek (Hakka) yang dikenal Ikal waktu disuruh membeli kapur tulis di sebuah toko kelontong. Sejak saat itulah, Ikal tidak bisa menghapus bayang sang bidadari berkuku indah itu bahkan ketika sang pujaan hati menghilang tak tahu rimbanya.
Kejadian lucu, mendebarkan bahkan terkadang konyol diramu oleh Andrea Hirata dengan apik. Walaupun ketiga novel Andrea Hirata yang saya baca selalu memikat. Tetapi saya lebih menikmati membaca buku ketiganya ini dibanding buku pertama dan keduanya. Endensor lebih terasa hidup dibanding kedua buku terdahulunya. Tetapi itu hanya argumen saya sebagai seorang pembaca awam.
Saya selalu senang membaca buku tentang perjalanan, karena saya sendiri suka jalan-jalan hahaha. Paris merupakan kota yang banyak saya temui di buku-buku cerita perjalanan. Entah itu 3 buah buku kumpulan catatan-catatan pendek para penerima beasiswa yang dirangkum oleh KPG dan Forum Jakarta-Paris (Renungan Perjalanan kalau tidak salah ingat judulnya). Sampai dengan mentor yang tidak pernah saya temui muka dengan muka, sang maestro Denys Lombart, pengarang Nusa Jawa: Silang Budaya.
Setiap membaca para petualang tas punggung ini selalu membuat saya semakin merindu untuk kembali ke jalan-jalan menyusuri kota demi kota. Dua tahun sudah saya habiskan di kampung halaman. Kalau tidak ada aral melintang, beberapa bulan lagi tubuh ini akan berangkat menyambut petualangan baru di negeri “matahari terbit”. Dan saya berjanji bahwa saya akan menyempatkan waktu untuk merambah dari ujung ke ujung negara mereka, minimal.
Semoga Tuhan mengabulkan mimpiku ini….
Salam
Yulibean
Tidak ada komentar:
Posting Komentar